Betbandarqq – Hikayat larangan judi adalah salah satu bentuk luar biasanya sejarah perjudian merasuki aktivitas manusia sejak ribuan tahun lalu, hingga kini. Saat masih berusia anak-anak, kita tentu mengenal permainan tebak nomor yang selalu hadir di depan lingkungan sekolah.

Kita membayar beberapa rupiah, lalu diberikan kesempatan untuk memilih nomor mana yang kira-kira akan muncul. Ternyata angka yang kita pilih tidak sesuai dengan angka yang muncul. Kita terus mencoba berkali-kali, sehingga uang saku yang seharusnya bisa digunakan untuk membeli jajan, justru habis tidak tersisa karena permainan tersebut.

Atau kita juga pasti pernah melakukan taruhan kecil-kecilan dengan sahabat, teman, atau saudara untuk berbagai alasan. Misalnya untuk memprediksi siapa yang akan punya nilai ujian tertinggi, hasil pertandingan sepak bola antarkelas, atau hal lainnya. Walaupun nominal yang Anda keluarkan cukup kecil, sadarkah Anda bahwa permainan tersebut tetap dikatakan sebagai judi? Berikut ini kami sajikan hikayat larangan judi di Indonesia.

Judi berarti aktivitas berupa permainan menggunakan uang atau barang berharga lainnya sebagai taruhan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Walaupun begitu, banyak orang yang melakukan judi untuk sekadar kepuasan semata.

Judi sudah muncul menjadi salah satu aktivitas hikayat larangan judi manusia sejak 3000 SM dengan permainan dadu sederhana yang dimainkan oleh masyarakat Mesopotamia. Judi terus berkembang di lingkungan masyarakat biasa, maupun lingkungan masyarakat kerajaan selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Judi yang  sebelumnya hanya berbentuk menebak jumlah angka dadu, semakin berkembang dengan variasi-variasi terbaru yang belum pernah dipikirkan oleh manusia sebelumnya.

Tentu saja hal ini menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Mulai dari kesenjangan yang semakin menjadi-jadi, dan tentu saja aksi curang yang terus berkembang dan menjadi konsumsi publik saat itu. Judi seakan-akan menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, judi dapat memberikan kekayaan secara singkat bagi pemainnya. Namun, apabila berada dalam kesialan, di mana hal tersebut lebih sering terjadi, judi dapat semakin menyengsarakan pemainnya.

Akhirnya, muncul berbagai regulasi untuk mengontrol hasrat berjudi betbandarqq setiap orang. Menurut Wikipedia, regulasi pertama untuk membuat masyarakat mengurangi konsumsi judi sudah muncul di Cina sejak abad pertengahan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi minat hikayat larangan judi masyarakat saat itu dalam berjudi. Banyak sekali hubungan antara seseorang melakukan perjudian dengan kondisi perekonomian keluarga saat itu yang semakin anjlok.

Tentu saja regulasi tersebut tidak bisa serta merta menghilangkan judi. Walau bagaimanapun, judi tetap diperlukan untuk memberikan keuntungan cepat bagi kerajaan. Oleh sebab itu mereka hanya mengontrol regulasi tempat-tempat perjudian agar bisa diakomodasi dan dapat memberikan retribusi rutin kepada pihak kerajaan. Hal itulah yang dimodifikasi saat ini di beberapa negara di dunia. Banyak negara yang bahkan mengandalkan judi sebagai komoditas terbaik, seperti Monaco, Macau, dan Las Vegasnya Amerika Serikat.

Negara-negara hikayat larangan judi tersebut akhirnya hanya mengatur regulasi lokasi atau tempat berjudi agar mendapatkan legalitas dalam menjalankan usahanya. Sebagai timbal balik, tempat judi tersebut memberikan insentif rutin berbentuk pajak usaha untuk membangun negara tersebut. Apakah hal itu dapat dibenarkan? Tentu saja tidak. Judi adalah salah satu aktivitas yang lebih banyak memberikan dampak buruk daripada kebaikannya.

Berbeda dengan negara-negara di atas, Indonesia sendiri sudah mengatur dengan tegas larangan untuk berjudi. Bahkan, Pemerintah Indonesia sudah mengatur regulasi pelarangan judi secara resmi dengan pengesahan PP No. 9 Tahun 1981 yang berisi tentang penertiban perjudian. Dalam PP tersebut, Pemerintah melarang segala bentuk aktivitas perjudian dan pencabutan izin usaha tempat perjudian yang sudah ada sebelumnya. Apabila masih saja ada aktivitas masyarakat dan pengusaha judi yang “ngeyel”.

Maka hukuman hikayat larangan judi tahanan dan denda yang tidak sedikit akan terus menghantui mereka. Pengesahan tersebut tidak lepas dari aktivitas judi yang semakin marak di Indonesia kala itu. Sebagai generasi 70-an, Anda pasti masih mengingat PORKAS dan SSB. Dua model judi berbentuk lotre yang bahkan dibentuk oleh Pemerintah sendiri. Namun, sebagai efek buruknya, perekonomian masyarakat mulai hancur lebur.

Lebih dari itu, aktivitas perjudian ilegal semakin menggeliat melihat aktivitas masyarakat yang sangat antusias dengan judi lotre namun merasa kurang memuaskan hasrat berjudi mereka. Hal-hal tersebut terjadi hanya saat Anda melihat larangan judi dari perspektif sejarah. Bagaimana apabila Anda melihat perspektif agama, terutama agama Islam, dalam memandang judi? Siap-siap Anda untuk bertekuk lutut, karena agama juga sepakat dengan perspektif sejarah. Bahkan lebih parah lagi.

Dalam surah Al-Maidah ayat 90, sudah sangat eksplisit dijelaskan bahwa perjudian merupakan salah satu bentuk perbuatan terlarang. Hukumannya? Rajam. Bagi Anda yang belum mengetahui, rajam adalah salah satu bentuk hukuman hikayat larangan judi dalam agama Islam terhadap seseorang yang melakukan pelanggaran norma berat, seperti perzinahan, pembunuhan, dan perjudian. Tubuh Anda akan dikubur dan hanya menyisakan kepala Anda. Setelah itu, beberapa orang akan melemparkan batu ke kepala Anda hingga Anda terkapar tidak berdaya.

Terlepas dari hikayat larangan judi di atas, Anda dapat melihat bahwa perjudian lebih memberikan dampak negatif bagi kehidupan dan bahkan perekonomian Anda. Bayangkan saat Anda mempertaruhkan segala kekayaan yang Anda dapatkan dengan bekerja keras hanya untuk beberapa pasang angka atau gambar yang belum tentu bermanfaat bagi Anda.

Apakah Anda bersedia kehilangan kekayaan Anda secara singkat, yang padahal kekayaan tersebut dapat Anda gunakan untuk kebutuhan Anda, keluarga Anda, dan untuk beberapa orang yang lebih membutuhkan daripada Anda sendiri? Stop berjudi dan sadari hikayat larangan judi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *